Tan Malaka, Menghilang Dan Terlupakan


Foto Tan Malaka / catatanadi.com
Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia
Setiap 20 Mei, bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Di setiap tanggal itu, tokoh seperti dr. Sutomo, dr. Wahidin Sudirohusodo, dan para tokoh pergerakan organisasi Budi Utomo diulas kembali. 

Budi Utomo adalah organisasi pergerakan bersifat nasional yang pertama berdiri di Indonesia, walau pada tahun-tahun awal pendiriannya nuansa Java-sentris masih sangat kental terlihat.

Budi Utomo dianggap sebagai pelopor bagi era baru pergerakan perjuangan rakyat, dari yang awalnya sporadis, bersifat kedaerahan dan mengandalkan aksi militer menjadi lebih terorganisir, bersifat nasional dan mulai menggunakan pendidikan serta diplomasi. 

Dengan alasan tersebut, Budi Utomo dianggap sebagai pembawa angin perubahan dan penyebar benih kesadaran nasional bagi bangsa ini.

Tokoh utama di balik pembentukan Budi Utomo adalah dr. Sutomo dan para mahasiswa kedokteran asal kampus STOVIA. 

Setelah Budi Utomo berdiri, dalam waktu yang tidak terlalu lama, berdirilah lusinan organisasi bersifat nasional lain yang turut berjuang memancarkan cahaya pencerahan bagi rakyat untuk menuntut kemerdekaannya.

Tokoh lain yang sering dikaitkan dengan Hari Kebangkitan Nasional adalah Bung Karno, Bung Hatta, Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara. Bung Karno adalah pendiri sekaligus ketua Partai Nasional Indonesia. 

Partai beraliran nasionalis marhaenis itu sejak awal memang didirikan untuk menghimpun kekuatan politik guna  mencapai Indonesia merdeka.

Sedang Bung Hatta adalah tokoh Perhimpunan Indonesia, sebuah perkumpulan para pelajar Indonesia yang belajar di Eropa. Dengan kegigihan serta keberaniannya, ia turut menyemaikan rasa nasionalisme di kalangan rakyat. 

Jika Bung Karno dan Bung Hatta lebih terkenal sebagai sosok politikus, maka Ki Hajar Dewantara lebih dikenal karena perjuangannya di bidang pendidikan. Pendiri perguruan Taman Siswa ini menumbuhkan rasa kebangsaan dan kesadaran nasional melalui lembaga pendidikannya. 

Dari semua tokoh tersebut, yang unik adalah Douwes Dekker. Sinyo Belanda ini memang terlahir sebagai seorang Belanda, tetapi jiwanya seratus persen Indonesia. 

Wartawan dan tokoh politik kawakan ini sempat membuat pemerintah Kolonial kebakaran jenggot lewat tulisannya yang berjudul “Bagaimana cara yang paling cepat agar Belanda segera kehilangan tanah jajahannya”.

Tetapi sebenarnya, ada satu tokoh lagi yang sangat layak disandingkan dengan nama-nama besar di atas. 

Sayangnya, karena kepentingan politik, nama tokoh ini bahkan hampir tidak pernah disebutkan dalam teks-teks pelajaran sejarah di sekolah. Tokoh ini tidak lain adalah Tan Malaka, si pacar merah.

Nasionalis Tulen

Membaca kisah Tan Malaka sebenarnya lebih mirip membaca sosok petualang ala Indiana Jones. 

Sosok yang misterius dan memiliki lusinan nama samaran ini adalah salah satu buron nomor satu pemerintah Belanda. Ia telah berpetualang ke berbagai tempat, mulai dari Moskow di Rusia hingga Banten. 

Di berbagai tempat, hanya satu pemikirannya, menyemaikan benih perjuangan kepada bangsanya.

Lantas siapakah sosok yang dalam kisah novel dijuluki sebagai pacar merah ini? Tan Malaka sendiri lahir di Suliki, Sumatera Barat pada 2 Juni 1897. Ia lahir dengan nama Sultan Ibrahim. 

Sejak muda sosok Tan Malaka memang dikenal sangat cerdas, berani dan berjiwa petualang. Ia tidak hanya dikenal sebagai tokoh politik, tetapi juga sebagai pendidik yang revolusioner, ahli strategi gerilya, ekonom yang visoner dan penulis yang produktif.

Tan Malaka adalah anak dari pasangan Rasad Chaniago dan Sinah Simabur. Ia menghabiskan masa kecilnya di lingkungan Islam Minangkabau yang kuat. 

Ia kemudian melanjutkan sekolahnya di Kweekschool Bukittinggi (sekolah guru). Ia juga sempat mengenyam pendidikan di Belanda, tepatnya di Rijks Kweekschool di kota Harleem. Sesudah tamat, Tan Malaka kembali ke tanah air dan mengajar di daerah Deli, Sumatera Utara.

Tempat di mana Tan Malaka mengajar sangat dekat dengan wilayah perkebunan yang dikelola Belanda. 

Pada saat itulah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana menderitanya para petani yang ditindas oleh tuan tanah dan para pengawas perkebunan milik kompeni tersebut. 

Dari situ, semangat juangnya terpanggil. Ia kemudian memutuskan untuk memulai aksi perjuangannya melawan kolonialis Belanda yang sudah menimbulkan penderitaan bagi rakyat.

Pada tahun 1921 ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan para anggota Sarekat Islam faksi komunis. 

Sarekat Islam faksi komunis inilah yang kemudian berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Kedekatannya dengan tokoh PKI membuat gerak-geriknya masuk daftar pengawasan Belanda. Maklum, PKI pada saat itu adalah organisasi yang paling keras melawan Belanda.

Di PKI, karirnya meningkat dengan pesat. Kemampuan orasi dan pemahaman Tan Malaka yang luas di berbagai bidang membuatnya tidak kesulitan untuk meraih banyak simpati atau pengikut. 

Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan, di antaranya pemogokan buruh kereta api, pendirian berbagai kursus kepemudaan dan rapat-rapat umum. 

Tapi sayangnya, pada Januari 1922,  ia kemudian ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Kupang. Dua bulan kemudian ia dibebaskan tetapi diusir dari Indonesia.

Sejak saat itu petualangannya dimulai. Pertama-tama ia pergi ke Berlin, Jerman. Di sana ia berusaha menjalin komunikasi dengan para tokoh anti-imperialisme dari banyak negara. 

Kemudian ia diterima bekerja di Komintern, sebuah federasi partai-partai komunis sedunia yang pada waktu itu berada di bawah kendali Joseph Stalin, pemimpin tertinggi Uni Soviet.

Sayangnya, banyak petinggi Komintern yang kemudian memusuhinya.  Ini karena perbedaan pandangan antara Tan Malaka dan para petinggi Komintern lain. 

Mayoritas tokoh Komintern menilai gerakan Islam sebagai penghalang dan juga sisa-sisa feodalisme yang harus dibasmi, sedang Tan Malaka sangat tidak setuju. 

Ia bahkan menilai gerakan Islam sebagai kawan seperjuangan untuk memusnahkan kapitalisme dan kolonialisme. Atas perbedaan itulah ia kemudian dipecat dari Komintern.

Selanjutnya ia menjadi buronan, tidak hanya oleh para polisi Belanda, tetapi juga kaki tangan Komintern. 

Tan kemudian berpindah dari satu negeri ke negeri lain dengan lusinan nama samaran. 

Ia pernah menjadi pengajar di Shanghai, Cina. kemudian menjadi pengawas sekolah di Singapura. Ia juga turut andil dalam mendirikan partai komunis Filipina. Hampir setiap hari ia hidup dalam bayang-bayang penangkapan. Tetapi karena Tan Malaka seorang yang cerdas dan berani, Ia selalu dapat meloloskan diri.

Setelah dua puluh tahun berkelana (menurut kisahnya dalam pendahuluan di buku berjudul Madilog), ia kembali ke Indonesia. Di sini, ia kemudian mengorganisir para pejuang serta memberikan berbagai taktik dan strategi politik yang berguna untuk mengenyahkan Belanda dari bumi pertiwi.

Penulis Yang Produktif

Walau hidup dalam pelarian, ternyata di benak Tan Malaka selalu teringat nasib bangsanya. Itu dibuktikannya melalui berbagai buku yang ia tulis. Buku-bukunya sangat berkelas dan tak lekang oleh waktu. 

Semua karya tulisnya menyiratkan bahwa selain sebagai seorang nasionalis tulen, ia adalah seorang penulis produktif.

Banyak dari karyanya kini diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan dibaca  beragam kalangan, mulai dari para sarjana asing hingga aktivis kampus. 

Karya-karya besar dari putra Minang ini antara lain: Menuju Indonesia Merdeka (Naar de Republiek Indonesia), Aksi Massa, Semangat Muda dan yang paling fenomenal, Madilog (Materia-Dialektika-Logika).

Madilog Yang Fenomenal

Madilog adalah karya Tan Malaka yang paling terkenal. Di dalamnya, Tan Malaka memberikan warisannya yang paling berharga bagi rakyat Indonesia, yakni cara berpikir yang logis dan mengenyahkan cara berpikir yang berdasarkan takhayul belaka. 

Madilog pun dicetak dalam berbagai bahasa di dunia dan dipajang di berbagai toko buku besar maupun perpustakaan megah di seluruh dunia, walau di Indonesia hanya membusuk di koridor usang di lapak penjual buku bekas.

Pahlawan Tanpa Gelar

Tidak dapat dipungkiri bahwa Tan Malaka memiliki kedekatan dengan komunisme, walau begitu banyak pula yang meyakini ia hanya seorang muslim taat yang bersimpati dengan ajaran komunis, tanpa menjadi komunis. 

Bahkan kabarnya, ketika terjadi pemberontakan komunis di Madiun pada tahun 1948, Tan Malaka yang saat itu berada di penjara, sengaja dikeluarkan untuk menghadapi pasukan PKI pimpinan Musso.

Jika ditilik, sudah banyak jasa yang diberikan oleh Tan Malaka bagi republik ini. Ia sering tampil di barisan paling depan dalam berbagai aksi rakyat. 

Ia juga turut menyemaikan kesadaran nasional yang kemudian membuahkan kebangkitan semangat perjuangan rakyat Indonesia. Mantan guru ini juga adalah idola bagi banyak tokoh bangsa saat itu, termasuk Bung Karno.

Tan Malaka sendiri kemudian hilang tak tentu rimbanya. 

Menurut Pozie, salah satu ahli sejarah asal Belanda, Tan Malaka dan pasukannya dieksekusi mati oleh sepasukan tentara di bawah komando Letda Soekotjo pada 21 Februari 1949 di Kediri. 

Hanya tanah dan langit yang berkabung atas tewasnya salah seorang bapak bangsa tersebut.

Menurut Keputusan Presiden No 53 Tahun 1969, Tan Malaka ditetapkan oleh Bung Karno sebagai salah satu pahlawan kemerdekaan nasional. 

Tetapi di era Soeharto, namanya dikubur dalam-dalam, bahkan Madilog serta karya-karyanya yang lain dibakar oleh kaki tangan orde baru. Orde baru memang sangat alergi terhadap segala hal yang berkaitan dengan komunisme. 

Itulah akhir nasib Tan Malaka, pembangkit nasionalisme, yang kemudian terhapus jejaknya di buku sejarah bangsanya sendiri, bangsa yang ia perjuangkan untuk merdeka. 

God bless you, Kamerad Tan.

0 Response to "Tan Malaka, Menghilang Dan Terlupakan"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel